- Indonesia, Samarinda
Foto: Situs Lesong Batu yang berada di Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, terus mencuri perhatian, baik dari wisatawan domestik maupun mancanegara. (sumber foto : Visiting Kutai Kartanegara)
WARTA-DIGITAL.COM - KUTAI KARTANEGARA - Potensi wisata spiritual dan sejarah di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus mencuri perhatian, baik dari wisatawan domestik maupun mancanegara.

Salah satu yang paling menonjol adalah situs bersejarah Lesong Batu, yang memiliki nilai spiritual tinggi, terutama bagi pemeluk agama Hindu.
Camat Muara Kaman, Barliang, mengungkapkan bahwa kunjungan ke situs tersebut didominasi wisatawan dari Bali.
“Yang paling banyak datang itu dari luar, khususnya dari Bali. Menurut pemahaman agama Hindu, situs seperti Lesong Batu dianggap sakral,” ujar Barliang saat ditemui, Selasa (17/06/2025).
Barliang menambahkan bahwa para pemeluk Hindu yang datang ke situs tersebut tidak sekadar berziarah, tetapi juga melakukan ritual doa.
“Mereka menyebut bahwa mereka wajib datang ke Muara Kaman, bukan untuk meminta, tapi untuk mendoakan kami,” imbuhnya.
Ketertarikan terhadap situs ini juga datang dari kalangan akademisi dan peneliti internasional. Penelitian dari negara seperti Perancis dan Australia telah dilakukan di lokasi tersebut, yang semakin memperkuat nilai historisnya.
“Mereka menyatakan bahwa situs ini memang asli dan memiliki nilai sejarah yang tinggi,” tambah Barliang.
Situs Lesong Batu juga sempat menjadi perhatian nasional saat Kongres Agama Hindu digelar di Balikpapan. Sejumlah peserta kongres menyempatkan diri mengunjungi situs tersebut sebagai bentuk penghormatan spiritual.
Meski memiliki daya tarik tinggi, pengembangan kawasan wisata ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama terkait kepemilikan dan status lahan.
“Sampai hari ini belum bisa kami selesaikan dengan baik. Prosesnya rumit karena banyak pihak yang harus sepakat terlebih dahulu,” ujar Barliang.
Namun demikian, Pemerintah Kecamatan Muara Kaman tetap menunjukkan komitmennya. Bersama Forkopimcam, kepala desa, dan Polsek setempat, mereka berupaya menjaga dan merawat kawasan tersebut semaksimal mungkin, meski dengan keterbatasan anggaran.
“Kami tetap jaga. Ada petugas kami di sana. Kalau ada tamu-tamu, kami upayakan supaya masyarakat senang dan merasa dilayani dengan baik. Walaupun kondisi belum seperti yang diharapkan, kami lakukan sesuai kemampuan,” pungkas Barliang. (adv/ruz/sky)
Komentar