KPID Kaltim Dorong Generasi Muda Miliki Mental Tangguh Hadapi Tekanan Era Digital

  • Jumat, 4 Juli 2025

WARTA-DIGITAL.COM Samarinda – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, generasi muda dihadapkan pada tantangan besar, bukan hanya dalam hal peluang, tetapi juga tekanan sosial yang semakin kompleks. Hal ini menjadi sorotan dalam Seminar Nasional bertajuk “2045: Indonesia Emas atau Indonesia Cemas?” yang digelar oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Timur bekerja sama dengan Forum Literasi Penyiaran Mahasiswa (FLPM) dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), belum lama ini.

 

Salah satu narasumber, Hamka, Dosen Psikologi UMKT, menekankan bahwa membangun mental tangguh (resilience) adalah kunci utama agar generasi muda mampu bertahan dan berkembang di tengah arus digital yang begitu cepat.

 

“Generasi kita harus memiliki daya tahan mental yang kuat dan mampu beradaptasi dengan perubahan sosial yang terjadi begitu cepat,” ujarnya.

 

Hamka menjelaskan bahwa media sosial sering kali menciptakan standar semu yang memicu kecemasan, tekanan psikologis, bahkan krisis identitas di kalangan remaja. Tanpa kesiapan mental, generasi muda akan rentan terjebak dalam tren negatif yang merugikan. Oleh karena itu, pendidikan karakter dan dukungan keluarga memiliki peran vital dalam membentuk generasi yang sehat secara mental.

 

“Inovasi lahir dari mental yang sehat. Jika anak muda terjebak dalam tekanan digital, mereka akan sulit berkontribusi pada cita-cita Indonesia Emas,” tegasnya.

 

Ketua KPID Kaltim, Irwansyah, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa literasi media memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental generasi muda. KPID Kaltim, kata Irwansyah, terus mendorong agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak hanya cerdas dalam menggunakan media digital, tetapi juga bijak dalam menyaring informasi.

 

“Migrasi teknologi digital bukan hanya soal penyiaran, tetapi juga membentuk pola pikir masyarakat. Dengan literasi yang baik, generasi muda tidak mudah terprovokasi oleh hoaks maupun tren sesaat yang justru merusak mental dan karakter mereka,” jelas Irwansyah.

 

Seminar ini diharapkan menjadi ruang refleksi dan diskusi publik yang produktif, di mana peserta dapat memahami pentingnya kesehatan mental sekaligus peran media dalam membentuk opini publik yang sehat.

 

KPID Kaltim optimistis bahwa melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas, Kalimantan Timur mampu melahirkan generasi tangguh yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

 

“Indonesia Emas bukan hanya soal kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga tentang menyiapkan generasi yang resilien. Tanpa itu, narasi emas hanya akan menjadi ilusi,” pungkas Hamka. (adv/sky/diskominfo kaltim)

Komentar