- Indonesia, Samarinda
WARTA-DIGITAL.COM SAMARINDA - Keterbatasan jumlah sekolah menengah atas di beberapa kecamatan di Kutai Kartanegara (Kukar) terus menimbulkan persoalan bagi para pelajar. Banyak siswa terpaksa menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari hanya untuk bisa belajar di sekolah terdekat. Kondisi ini dianggap sebagai bentuk ketimpangan akses pendidikan yang tak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra, menyoroti persoalan tersebut dan meminta pemerintah provinsi memberikan perhatian lebih serius. Ia menyebutkan, laporan soal jarak tempuh yang jauh sudah berulang kali disampaikan masyarakat.
“Masih ada pelajar yang harus melalui perjalanan 20 hingga 30 kilometer setiap hari. Ini tentu menjadi beban bagi anak-anak, apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah dengan akses terbatas,” ujarnya, Senin (08/12/2025).
Andi menegaskan bahwa pemerataan pembangunan SMA harus menjadi bagian penting dari perencanaan strategis pendidikan provinsi. Menurutnya, daerah-daerah yang belum memiliki SMA perlu segera dipetakan agar mendapatkan prioritas pembangunan.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa penyusunan program tetap harus menyesuaikan kemampuan anggaran. Dengan kondisi fiskal 2026 yang cukup ketat, setiap usulan wajib dihitung secara realistis dan berbasis kebutuhan lapangan.
Komisi IV, lanjutnya, akan terus mengawal aspirasi masyarakat Kukar terkait minimnya fasilitas pendidikan. Andi berharap pembangunan SMA baru dapat menjadi solusi yang mengurangi beban jarak tempuh sehingga setiap anak di Kaltim memiliki kesempatan belajar yang lebih mudah dan layak. (adv/sen/dprd prov kaltim)
Komentar